Sugiman juga menegaskan bahwa selama ini para petani tidak pernah mendapat pendampingan atau penyuluhan dari penyuluh pertanian terkait pencegahan penyakit tanaman.
“Tidak ada perhatian dari pemerintah, khususnya penyuluhan dari penyuluh pertanian,” tegasnya.
Di lokasi yang sama, petani jahe lainnya, Suyatmi, menambahkan bahwa panen prematur berdampak pada turunnya harga jual jahe. Harga jahe yang biasanya mencapai Rp17.000 per kilogram kini hanya dijual Rp12.000 per kilogram.
“Kami jual Rp12.000 per kilo daripada tidak dapat apa-apa. Dengan harga segitu, Alhamdulillah masih bisa balik modal,” katanya.
















