BENGKULU, BEKENTV – Setelah lima dapur makan bergizi gratis (MBG) beroperasi di wilayah Sukaraja, Tais, dan Kecamatan Talo, permintaan bahan pangan, terutama telur, terus meningkat. Setiap dapur MBG membutuhkan suplai telur setiap hari untuk penyediaan protein hewani.
Akibat tingginya permintaan dari setiap dapur MBG, harga telur di pengecer maupun warung mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 56.000 per karpet menjadi Rp 68.000 per karpet. Jika dijual per butir, harganya mencapai Rp 2.500.
“Hampir seluruh kebutuhan pangan di Kabupaten Seluma saat ini meningkat. Salah satunya telur. Hal ini karena tingginya harga permintaan, terutama untuk dapur MBG di Kabupaten Seluma,” tegas Amri.
Amri menambahkan, pasokan telur di Kabupaten Seluma sebenarnya cukup, dengan adanya produsen telur di beberapa kandang di wilayah Kelurahan Babatan, Sukaraja, dan daerah lainnya. Namun, masalah muncul karena sebagian produsen menjual telur ke luar daerah, sehingga pasokan di dalam kabupaten berkurang.
“Karena produsen pemilik kandang petelur menjual telur ke luar daerah. Sehingga pasokan dalam daerah berkurang. Sedangkan permintaan tinggi, itulah sebabnya harga telur tinggi,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal ini, DKP Seluma akan meminta pemilik kandang agar tetap menjual telur di dalam daerah, sehingga pasokan tidak berkurang.
“Ini kami akan berkoordinasi dengan peternak ayam petelur agar tak menjual ke luar daerah. Agar kebutuhan telur di Seluma tercukupi dan harga bisa ditekan,” ujarnya.
















