Pemimpin Wilayah Bulog Bengkulu menyatakan bahwa kebijakan ini adalah wujud nyata dari semangat kemitraan.
“Kami tidak hanya melihat gabah ini sebagai komoditas, tapi sebagai simbol kemandirian pangan yang dikerjakan oleh tangan-tangan hebat petani kita. Dengan harga Rp 6.500, kami ingin memastikan para petani mendapatkan nilai yang pantas atas kerja keras mereka, sehingga mereka tetap semangat untuk turun ke sawah di musim tanam berikutnya,” ungkap Dody.
Selain itu Dody juga menambahkan bahwa Perum Bulog tentunya juga melakukan komunikasi efektif dan berkolaborasi kepada stakehokder maupun para pemangku kepentingan baik ditingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota yaitu TNI/Babinsa, Babinkamtibmas, PPL, maupun maupun Dinas Pertanian guna mengoptimalkan serapan tahun ini.
















