Dalam praktiknya, punggahan menjadi momen untuk membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Masyarakat memanfaatkan waktu ini untuk saling memaafkan, mempererat hubungan keluarga, dan memperkuat kebersamaan.
Nilai-nilai ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dan persiapan ruhani sebelum Ramadan.
Meski punggahan bukan ibadah yang secara khusus dicontohkan dalam syariat, para ulama menjelaskan bahwa tradisi lokal yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam termasuk bagian dari adat yang diperbolehkan.
Selama tidak mengandung unsur maksiat, pemborosan, atau keyakinan yang menyimpang, tradisi seperti punggahan dapat menjadi sarana kebaikan.
















