Seluruh pasien HIV yang telah terdata saat ini, lanjut Helma, tetap menjalani pemantauan dan pengobatan rutin di Rumah Sakit Umum Daerah Hasanudin Damrah (RSUD HD) Manna.
Meski demikian, Dinkes Bengkulu Selatan mengakui masih menghadapi kendala dalam pendataan dan pemantauan kasus HIV. Hal tersebut disebabkan belum adanya lokasi khusus atau titik rawan yang bisa dijadikan fokus pengawasan.
“Kami kesulitan menentukan kelompok berisiko karena di Bengkulu Selatan belum ada tempat-tempat yang bisa dipantau secara rutin,” jelasnya.
Akibatnya, sebagian besar kasus HIV baru terdeteksi ketika penderita sudah mengalami gangguan kesehatan. Helma meyakini jumlah penderita HIV di Bengkulu Selatan bisa lebih banyak dari data yang ada jika pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh.
















