Doa ini mengajarkan ketundukan penuh seorang hamba kepada Allah.
Di dalamnya terkandung pengakuan bahwa kesembuhan sejati hanya datang dari-Nya, bukan semata dari obat atau usaha manusia.
Selain doa Nabi, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Allah adalah pemberi kesembuhan. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 80:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Wa idzā maridhtu fa huwa yasyfīn.
Artinya:
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”
Ayat ini menunjukkan bahwa sakit dan sembuh berada dalam kekuasaan Allah sepenuhnya.
Tugas manusia adalah berusaha dan berserah diri dengan penuh keyakinan.
















