Saat itu, puasa Ramadhan hanya turun dengan hukum yang diwajibkan saja, sehingga tidak ada ketentuan yang jelas mengenai batasan kapan boleh makan dan minum serta kapan tidak makan dan minum.
Sejumlah sahabat yang puasa bahkan tertidur sebelum berbuka puasa. Ada juga yang tidur lelap hingga tidak sahur, namun keesokan harinya tetap harus berpuasa, seperti yang dialami oleh Qais bin Shirmah.
Lantas turunlah surah Al-Baqarah ayat 187, dan menjadi pedoman bagi umat Islam untuk berpuasa di bulan Ramadhan maupun puasa sunah lainnya.
Hingga kisah tersebut juga menjadi dasar anjuran untuk makan sahur sebelum berpuasa. Sebagaimana orang yang berpuasa di bulan Ramadan, puasa sunah juga dianjurkan bagi mereka yang hendak berpuasa untuk bersahur.
















