BENGKULU, BEKENTV – Kinerja neraca perdagangan Provinsi Bengkulu masih mencatat capaian positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu merilis neraca perdagangan barang Bengkulu sepanjang Januari hingga November 2025 mengalami surplus sebesar USD 90,16 juta.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, menjelaskan meskipun tetap surplus, nilai tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai USD 177,28 juta, atau turun 49,15 persen.
“Surplus neraca perdagangan Provinsi Bengkulu sepanjang Januari–November 2025 masih terjaga, namun nilainya menurun seiring turunnya kinerja ekspor beberapa komoditas utama,” ujar Win Rizal.
Ia menyebutkan, sepanjang Januari hingga November 2025 nilai ekspor Bengkulu tercatat sebesar USD 90,16 juta, sementara tidak terdapat aktivitas impor ke Provinsi Bengkulu sejak Desember 2024. Dengan demikian, seluruh surplus perdagangan ditopang oleh komoditas nonmigas, mengingat Bengkulu tidak memiliki komoditas migas.
Pada bulan November 2025, nilai ekspor Provinsi Bengkulu mencapai USD 6,21 juta. Angka ini turun 3,87 persen dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar USD 6,46 juta, serta turun tajam 72,56 persen dibandingkan November 2024 yang mencapai USD 22,63 juta.
Secara kumulatif, komoditas yang mengalami penurunan ekspor terbesar sepanjang Januari–November 2025 adalah golongan karya seni, barang kolektor, dan barang antik, yang merosot hingga 99,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, peningkatan terbesar terjadi pada golongan binatang hidup, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,23 juta atau melonjak 11.277,16 persen.
Jika dibandingkan Oktober 2025, ekspor Bengkulu pada November 2025 di sektor industri pengolahan turun 39,03 persen, terutama disebabkan menurunnya ekspor kayu dan barang dari kayu. Sektor pertambangan dan lainnya juga turun 1,23 persen akibat penurunan ekspor bahan bakar mineral (batubara). Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan justru naik 27,82 persen, didorong meningkatnya ekspor binatang hidup berupa serangga.
Win Rizal menambahkan, tiga negara tujuan utama ekspor Provinsi Bengkulu sepanjang Januari–November 2025 adalah India, Filipina, dan Thailand, dengan kontribusi mencapai 56,73 persen dari total ekspor nonmigas.
“India masih menjadi pasar ekspor utama Bengkulu dengan nilai USD 22,64 juta atau 25,11 persen, disusul Filipina sebesar USD 15,82 juta dan Thailand USD 12,69 juta,” jelasnya.
Komoditas utama yang diekspor ke India pada periode tersebut didominasi oleh batubara dan paket pos.
Lebih lanjut, Win Rizal mengungkapkan penurunan ekspor Bengkulu selama Januari–November 2025 dipengaruhi oleh turunnya ekspor beberapa komoditas unggulan. Ekspor batubara secara kumulatif turun 51,29 persen, dari USD 165,17 juta pada 2024 menjadi USD 80,46 juta pada 2025. Komoditas karet juga turun 30,66 persen, sementara komoditas lintah mengalami penurunan 13,28 persen.
Namun demikian, ekspor komoditas lainnya justru menunjukkan peningkatan 39,35 persen, dari USD 1,85 juta pada Januari–November 2024 menjadi USD 2,58 juta pada periode yang sama tahun 2025.
“Ke depan, diversifikasi produk dan perluasan pasar ekspor menjadi kunci untuk menjaga kinerja neraca perdagangan Provinsi Bengkulu tetap positif,” pungkas Win Rizal.
















