“Tradisi makan bajamba ini mengajarkan kebersamaan, kekeluargaan, dan rasa persaudaraan. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujar Efi Wati Noer.
Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan, terutama oleh masyarakat Minangkabau yang kini tinggal di tanah rantau, agar tidak melupakan jati diri serta asal-usul budaya mereka.
“Dengan tetap menjalankan tradisi ini, kita ingin generasi Minang di perantauan, khususnya para Bundo Kanduang, selalu ingat dan memahami akar budayanya meskipun berada jauh dari tanah kelahiran,” tambahnya.
Lebih lanjut, Efi menjelaskan bahwa makan bajamba juga mengandung nilai sosial yang tinggi, seperti solidaritas, kebersamaan, serta penghormatan kepada orang yang lebih tua. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi adat dan agama.
















