Sri menekankan pentingnya sinergi kolektif dari seluruh pemerintahan desa. Bagi wilayah yang belum ikut serta pada gelombang pertama, tahun 2026 ini menjadi momentum krusial untuk bergabung demi pemerataan ekonomi pedesaan melalui sektor pertanian.
“Kita dorong bagi desa yang belum ikut di tahun 2025 untuk ikut di tahun 2026 ini karena menjadi kunci untuk meningkatkan produksi jagung secara merata,” jelas Sri.
Meskipun laporan final produksi 2025 masih dalam tahap rekapitulasi karena adanya perbedaan masa panen di tiap wilayah, optimisme tinggi tetap diusung untuk capaian tahun berjalan.
“Produksi jagung saat ini belum bisa kami petakan secara menyeluruh karena masih ada desa yang belum panen, namun dengan adanya program Sadesahe, target produksi jagung Bengkulu diperkirakan bisa mencapai sekitar 95 ribu ton jagung kering pipil,” tambahnya.
















