Sikap inilah yang membuat Shalahuddin dihormati tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh lawan-lawannya.
Banyak sejarawan Barat mencatat bahwa Shalahuddin adalah contoh ksatria sejati yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bahkan di tengah peperangan.
Ia menepati janji, menghormati perjanjian, dan menolak tindakan zalim meski terhadap musuh. Dalam kehidupan sehari-hari, Shalahuddin dikenal hidup sederhana.
Ia tidak menumpuk harta dan hampir seluruh kekayaannya digunakan untuk kepentingan umat, dakwah, dan jihad di jalan Allah.
Bahkan ketika wafat pada tahun 1193 M di Damaskus, ia hampir tidak meninggalkan harta duniawi, kecuali beberapa dinar yang tidak cukup untuk biaya pemakamannya.
















