Sejak kecil, Shalahuddin tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai agama, disiplin, dan kecintaan terhadap ilmu.
Meski dikenal sebagai panglima perang, Shalahuddin sejatinya lebih mencintai ilmu dan ibadah dibandingkan peperangan.
Ia dikenal rajin sholat malam, gemar membaca Al-Qur’an, serta sangat menghormati para ulama.
Kepribadiannya yang lembut, rendah hati, dan tawadhu menjadi ciri khas yang membedakannya dari banyak penguasa pada zamannya.
Perjalanan Shalahuddin menuju puncak kepemimpinan tidaklah instan. Ia memulai karier sebagai prajurit di bawah asuhan pamannya, Asaduddin Syirkuh.
















