Puncak kemarahan publik tertuju pada kebijakan kampus yang dinilai sangat zalim terhadap mahasiswa.
Meski menjadi korban dari lemahnya sistem keamanan server universitas, para mahasiswa justru dipaksa untuk membayar ulang UKT mereka. Bukannya memberikan perlindungan, kampus justru seolah mengalihkan beban kesalahan sistem kepada kantong mahasiswa.
Salah satu mahasiswa yang menjadi korban mengungkapkan rasa frustrasinya atas kebijakan sepihak tersebut. “Iya benar bang, kami disuruh bayar ulang,” ujarnya singkat dengan nada pasrah.
Kondisi ini memperkuat kesan bahwa mahasiswa diposisikan sebagai pihak yang paling dirugikan, sementara pimpinan institusi tetap aman di kursinya tanpa memberikan pertanggungjawaban nyata.















