Nabi SAW bersabda, “Tuhanku, Engkau telah mengampuni Dihyah yang sudah membunuh putri-putrinya dengan kalimat syahadatnya yang sekali saja. Maka, bagaimana Engkau tidak mengampuni orang-orang beriman yang mempunyai dosa-dosa kecil dengan syahadat mereka yang berkali kali?” (Ibn Sa’ad dalam Thabaqat Al Kabir)
Usai memeluk Islam, Dihyah selama hidupnya pernah menyaksikan peristiwa Perang Badar bersama dengan Rasulullah SAW.
Dia tinggal di desa Al-Mizit, yang dekat dengan Damaskus, selama masa hidupnya, yang berlangsung hingga masa pemerintahan Khalifah Muawiyah.
Selain itu, Nabi Muhammad SAW mengutusnya ke pimpinan Bashrah untuk menyerahkan surat itu kepada Raja Heraclius.
















