Ia tidak sendirian, ditemani ibu dan kakaknya bernama Anis al-Ghiffari. Mereka kemudian pindah ke Najd Atas.
Abu Dzar RA akhirnya menjadi tokoh revolusioner di kediaman barunya. Dia menciptakan banyak ide revolusioner.
Namun sayangnya ide tersebut ditolak oleh masyarakat setempat. Akhirnya Abu Dzar RA hijrah ke Mekkah.
Sesampainya di Mekkah, Mekkah dalam keadaan kacau balau dan terjadi konflik antara suku kafir Quraisy dengan kaum muslimin.
Dari situlah Abu Dzar RA langsung tertarik untuk masuk Islam. Sesampainya di Mekkah, ia langsung menuju rumah Nabi untuk berbai’at.
Namun, sangat disayangkan ia tidak bisa bertemu dengan Rasulullah SAW hari itu.
















