Salah satu modus yang kini marak dikenal dengan istilah brushing. Pelaku mengirim paket ke rumah calon korban tanpa identitas pengirim. Di dalam paket terdapat QR code.
Rasa penasaran membuat korban memindai kode tersebut untuk mengetahui asal kiriman. Tanpa disadari, korban justru membuka akses ke data pribadinya yang kemudian dimanfaatkan untuk penipuan atau pencurian uang.
Perusahaan keamanan siber NordVPN mencatat, ancaman ini terus meningkat. Diperkirakan lebih dari 26 juta orang berpotensi pernah diarahkan ke situs berbahaya melalui QR code palsu.
Kepala Teknologi NordVPN, Marijus Briedis, menyebut QR code kini menjadi pintu masuk baru bagi kejahatan digital. Menurutnya, banyak orang masih menganggap QR code lebih aman dibanding tautan di pesan atau email.
















