Menurutnya, penguatan fungsi rumah sejarah tidak hanya sebatas tempat penyimpanan artefak, tetapi juga perlu dikembangkan sebagai ruang edukasi dan rekreasi budaya.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah penyediaan kedai kopi yang menyajikan kuliner khas Bengkulu serta perpustakaan kecil bagi pengunjung.
“Dengan adanya fasilitas pendukung seperti kedai kopi dan ruang baca, pengunjung bisa lebih lama berada di lokasi dan mendapatkan pengalaman sejarah yang lebih mendalam,” ujarnya.
Selain itu, ia menyinggung perlunya penyesuaian tarif masuk sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan. Saat ini, tiket masuk masih ditetapkan sebesar Rp5.000. Ia menilai angka Rp10.000 tetap terjangkau sekaligus mencerminkan penghargaan terhadap nilai sejarah bangunan tersebut.
















