Mendengar ucapan tersebut, Sayyidah ‘Aisyah kemudian mencoba meminta penjelasan dari Rasulullah dan berkata,
“Sesungguh (yang mati) ini hanyalah lampu penerangan.”
Dalam hal ini, bisa jadi saat itu Sayyidah ‘Aisyah berpikir bahwa kalimat tarji’ (bacaan innalillahi) dikhususkan hanya saat terjadi musibah atau bencana yang besar.
Misalnya saat saudara sesama Muslim meninggal dunia atau sedang terjadi bencana alam hingga merenggut banyak nyawa.
Hanya saja Nabi menanggapi dengan berbeda kemudian beliau menjelaskan dan berkata,
“Segala sesuatu yang menyusahkan seorang mukmin maka itu adalah musibah.”
















