Apalagi banyak keberadaan tanaman sawit di kawasan aliran sungai disebut mampu merusak sistem pengendali air. Sehingga pohon sawit yang ditanam dipiggir sungai akan ditertibkan.
“Atas informasi yang ada tentu akan kita identifikasi terlebih dahulu. Kita tidak bisa serta-merta mengambil tindakan tanpa mengetahui fakta di lapangan,” kata Rifai.
Sementara itu, sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Bengkulu Selatan berencana mendorong penanaman bambu di sepanjang bantaran sungai. Tanaman bambu dipilih karena memiliki akar yang kuat dan mampu menahan erosi serta memperlambat aliran air permukaan.
Rifai menyebut, pihaknya akan mengajak para kepala desa untuk ikut berperan aktif dalam program tersebut. Namun, keterbatasan dana desa menjadi salah satu pertimbangan.
















