Tidak hanya ahli fiqh beliau juga ahli tasawuf, Imam Ghazali tak selalu berpandang bahwa puasa merupakan ibadah badaniyah. Sehingga, gagasan mengenai rahasia puasa ini memberi kesadaran pada kita akan pentingnya menunaikan ibadah puasa dengan lahir batin.
Rahasia Puasa Menurut Imam Al-Ghazali
- Jagalah lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
- Tahanlah telinga saat mendengar suatu hal yang dimakruhkan, semua haram diucapkan, haram untuk didengarkan. Allah Ta’ala menyamakan antara mendengar dan juga memakan perkara haram. “sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis”.
- Menundukkan pandangan dan juga mencegah untuk memperluas perhatian pada semua yang dimakruhkan, terlebih dari apapun yang terkesan melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
- Tak hanya itu, mencegah bagian tubuh lainnya misal tangan dan kaki dari tindakan yang tak sengaja. Mencegah perut untuk memakan barang syubha, sulit terbuka. Mana mungkin bermakna, Seseorang itu layak sebagai orang berpuasa dan suatu makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung hanya saja ia lebih selesai. Menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah mendengar bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah seseorang yang berbuka menggunakan hal haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
- Tidak memperbanyak makan saat berbuka, mengisi perut dan juga mulut tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa bila saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang saat waktu siang, yakni makan. Bahkan, justru saat Ramadhan akan kamu temukan sejumlah makanan yang beragam. Saat di hari biasa tidak ada santapan tersebut. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
- Supaya hati saat bergoncang antara khouf (takut) dan juga roja’ (mengharap). Sebab, ia tak tahu bagaimana caranya supaya puasa diterima serta menjadi seseorang yang dekat kepada Allah Ta’ala, ataukah puasa itu ditolak hingga ia menjadi orang yang dibenci.
Page 2 of 3
















