Edi menjelaskan bahwa realisasi pada dua bulan pertama ini dinilai sejalan dengan proyeksi penerimaan daerah. Sumber utama PAD tersebut berasal dari sektor unggulan seperti pajak daerah, retribusi, dan pendapatan sah lainnya.
Pajak daerah masih menjadi penyumbang terbesar, khususnya dari Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), pajak restoran, pajak hiburan, hingga pajak penerangan jalan.
“Untuk PBB-P2, SPPT dan DHKP memang belum dicetak. Namun, jika PBB-P2 mulai kita genjot pengumpulannya, insya Allah capaian PAD akan jauh lebih tinggi lagi,” ungkapnya.
Guna mengejar sisa target Rp37 miliar lebih, Bapenda Seluma berkomitmen mengoptimalkan potensi yang ada melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pajak. Langkah konkret yang diambil meliputi peningkatan pengawasan serta pendataan wajib pajak baru.
















