BENGKULU, BEKENTV – Sebanyak 35 Kepala Keluarga (KK) atau 50 jiwa warga transmigrasi yang menetap di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan, kini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
Melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025, kawasan transmigrasi di Kedurang memperoleh alokasi dana sebesar Rp4,5 miliar.
Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pembangunan sarana air bersih, fasilitas toilet, renovasi sekolah, serta pembangunan jalan non-status yang menjadi penghubung desa.
Wakil Menteri Transmigrasi H. Viva Yoga Mauladi, M.Si, mengatakan bahwa program ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup transmigran.
“Kami melihat kebutuhan dasar di Batu Ampar belum sepenuhnya terpenuhi. Listrik belum masuk, namun sementara sudah ada bantuan pembangkit listrik tenaga surya. Ke depan, kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk mengusulkan program Listrik Desa (Litdes) agar bisa segera masuk ke kawasan transmigrasi,” jelas Viva Yoga, Rabu (10/9).
Menurutnya, hingga saat ini sudah ada 55 desa transmigrasi di berbagai daerah yang melaporkan belum dialiri listrik, termasuk beberapa desa di Bengkulu.
Data tersebut sedang diproses untuk diajukan agar segera mendapatkan prioritas.
Selain listrik, pemerintah juga terus memperhatikan aspek pendidikan, kesehatan, infrastruktur pertanian, serta transportasi di kawasan transmigrasi. Viva Yoga mencontohkan, program transmigrasi di Kabupaten Bengkulu Utara telah menjadi kisah sukses, dan ia berharap Desa Batu Ampar di Bengkulu Selatan bisa mengikuti jejak serupa.
“Bengkulu Selatan ini berpotensi besar. Kami optimistis desa transmigrasi di sini akan berkembang menjadi desa maju,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Bengkulu Selatan, Rifai Tajuddin, menyambut baik dukungan dari pemerintah pusat.
Ia menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak warga.
“Harapan kami terutama akses jalan akan segera diwujudkan. Tahun ini akan dibangun 2 kilometer jalan penghubung untuk memudahkan mobilitas warga. Kami siap bersinergi dengan Kementerian Transmigrasi dan ESDM. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat masyarakat bisa merasakan langsung manfaatnya, bahkan bersama-sama kita akan menyalakan lampu pertama di desa ini,” ujar Rifai.
Rifai juga menekankan bahwa pendidikan anak-anak transmigrasi tidak boleh terhambat hanya karena keterbatasan sarana.
Ia menargetkan pada tahun 2026 seluruh sarana dan prasarana pendidikan di desa transmigrasi sudah tuntas dibangun.
“Kami tidak ingin ada anak-anak transmigran yang putus sekolah. Itu menjadi komitmen pemerintah daerah,” tegasnya.
Dengan dukungan dana dan sinergi lintas kementerian, diharapkan Desa Batu Ampar, Kedurang, tak hanya menjadi kawasan transmigrasi, tetapi juga tumbuh sebagai desa mandiri dan maju di Bengkulu Selatan.
(Ary Rahmad)
















