BENGKULU, BEKENTV.ID – Viral virus nipah, katanya lebih berbahaya dari Covid-19, benarkan? Berikut ini kelompok paling rentang terinfeksi.
Kewaspadaan masyarakat terhadap virus Nipah (NiV) kembali meningkat setelah muncul laporan kasus di beberapa negara Asia pada awal tahun 2026. Virus ini dikenal sebagai penyakit menular yang berbahaya karena memiliki tingkat kematian cukup tinggi serta mampu berpindah dari hewan ke manusia, bahkan antar manusia.
Lantas, mana yang lebih berbahaya antara virus nipah dan Covid-19?
Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis, yakni infeksi yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia. Virus ini masuk dalam keluarga Paramyxoviridae dan kelompok Henipavirus.
Hewan pembawa alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah atau flying fox. Virus dapat ditemukan dalam air liur, urine, serta kotoran kelelawar tersebut.
Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar cairan tubuh kelelawar, maupun melalui interaksi dekat dengan orang yang sudah terjangkit virus Nipah.
Situasi ini membuat virus Nipah berpotensi menimbulkan wabah, terutama di daerah yang memiliki hubungan erat antara manusia, hewan ternak, dan habitat alami kelelawar.
Sementara itu, Covid 19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyebar sangat cepat melalui droplet dan aerosol.
Meski tingkat kematiannya jauh lebih rendah dibanding Nipah, Covid 19 memiliki daya tular ekstrem, sehingga mampu menjangkiti jutaan orang dalam waktu singkat dan berkembang menjadi pandemi global.
Diukur dari Segi Medis Antara Virus Nipah dan Covid-19
Jika diukur dari tingkat kematian per kasus, virus Nipah jelas lebih berbahaya dibanding Covid 19. Pasien Nipah memiliki risiko kematian jauh lebih tinggi, dan hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk virus tersebut.
Namun, dari sisi ancaman populasi, Covid 19 terbukti jauh lebih merusak karena kemampuannya menyebar luas dengan cepat, bahkan dari orang tanpa gejala.
Inilah alasan Covid 19 menyebabkan krisis sistem kesehatan di banyak negara, sementara wabah virus Nipah cenderung terbatas secara geografis dan jumlah kasus.
Dengan kata lain, virus Nipah mematikan secara individual, Covid 19 mematikan secara massal.
Kelompok yang Paling Rentan Terpapar Virus Nipah
Tidak semua orang memiliki peluang tertular virus nipah. Nah, dengan mengetahui kelompok yang paling berisiko menjadi langkah penting agar pencegahan bisa dilakukan secara lebih terarah dan efektif.
Risiko infeksi tidak merata pada semua orang. Beberapa kelompok lebih rentan karena aktivitas pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan pola interaksi mereka.
1. Pekerjaan yang Menangani Hewan Ternak
Kelompok pertama adalah peternak serta pekerja yang menangani hewan ternak. Mereka yang bekerja di peternakan, terutama peternakan babi yang berada dekat kawasan tempat hidup kelelawar, memiliki risiko lebih besar tertular virus Nipah. Kontak langsung dengan hewan sakit atau lingkungan yang tercemar cairan tubuh kelelawar dapat menjadi jalur penularan.
Berdasarkan data kesehatan, peternak babi dan pekerja yang berhubungan langsung dengan ternak termasuk kelompok dengan tingkat kerentanan tertinggi. Kelompok berikutnya adalah pengumpul nira dan buah-buahan yang berpotensi terkontaminasi.
Orang yang mengonsumsi atau mengumpulkan nira aren, jus segar, atau buah yang mungkin telah disentuh atau digigit kelelawar juga berada dalam kelompok berisiko tinggi. Virus Nipah dapat bertahan pada makanan yang terkena air liur atau urine kelelawar. Jika dikonsumsi tanpa proses pemanasan atau pembersihan yang memadai, peluang infeksi menjadi lebih besar.
2. Tenaga Medis
Tenaga medis dan perawat pasien Nipah juga termasuk kelompok yang sangat rawan tertular. Petugas kesehatan yang merawat pasien terinfeksi berisiko terkena virus, khususnya saat bersentuhan dengan cairan tubuh seperti darah, air liur, atau lendir pernapasan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa tenaga kesehatan yang menangani pasien Nipah berada dalam kategori risiko tinggi, terlebih jika prosedur pencegahan infeksi tidak dijalankan dengan benar.
3. Petugas Laboratorium
Selain itu, petugas laboratorium juga menghadapi ancaman serupa. Tenaga laboratorium yang mengelola atau memeriksa sampel dari pasien Nipah dapat terpapar virus jika terjadi kesalahan penanganan atau perlindungan biologis tidak optimal. Karena itu, penerapan standar keamanan laboratorium yang ketat sangat diperlukan.
Kelompok lain yang juga berisiko adalah keluarga dan orang-orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien. Anggota keluarga atau pihak yang merawat penderita tanpa alat pelindung dapat tertular melalui interaksi langsung.
Risiko penularan semakin tinggi selama masa infeksi aktif, terutama jika tidak memahami cara mencegah penyebaran virus.
(Rizki Indah)
















