BENGKULU, BEKENTV – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bengkulu Selatan kembali menjadi perhatian serius.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkulu Selatan, jumlah kasus HIV/AIDS periode Januari – September 2025 ini tercatat mencapai 26 kasus.
Angka ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Helma Boti, mengungkapkan bahwa temuan tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan kesehatan terhadap kelompok masyarakat yang dinilai rentan terpapar penyakit menular, termasuk pekerja seks, pengguna narkoba suntik, serta individu dengan perilaku berisiko tinggi.
Menurut Helma, salah satu faktor yang diduga kuat menjadi penyebab meningkatnya penyebaran HIV di Bengkulu Selatan adalah maraknya praktik prostitusi liar yang beroperasi secara tersembunyi dan tidak terpantau oleh pihak berwenang.
“Praktik prostitusi liar ini sulit dipantau karena berlangsung di tempat-tempat tertutup dan berpindah-pindah. Hal inilah yang menyulitkan petugas dalam melakukan pengendalian dan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” ujar Helma.
Lebih lanjut, Helma menjelaskan, berbeda dengan kawasan lokalisasi resmi yang mudah diawasi dan secara berkala mendapatkan layanan kesehatan dari pemerintah, prostitusi ilegal justru memperbesar risiko penyebaran HIV karena tidak adanya kontrol medis maupun edukasi pencegahan di lapangan.
Selain itu, minimnya pemahaman masyarakat tentang bahaya perilaku seksual berisiko juga memperburuk situasi. Dinkes mencatat, sebagian besar penularan HIV di Bengkulu Selatan terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, sementara penularan melalui jarum suntik secara bergantian tetap ada meski dalam jumlah yang lebih kecil.
“Kami terus mengingatkan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan tokoh agama untuk bersama-sama meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV. Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegas Helma.
Sementara itu, sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Bengkulu Selatan telah merumuskan sejumlah strategi penanganan, di antaranya:
– memperluas edukasi dan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS ke sekolah, tempat ibadah, dan komunitas masyarakat,
– memperkuat layanan pemeriksaan dan konseling kesehatan bagi kelompok rentan,
– serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengawasi praktik prostitusi ilegal yang disinyalir menjadi sumber utama penyebaran virus.
Helma berharap dengan sinergi lintas sektor dan dukungan masyarakat, kasus HIV di Bengkulu Selatan dapat segera ditekan. Ia menegaskan, langkah-langkah pencegahan dini jauh lebih efektif daripada penanganan setelah terinfeksi.
“HIV bukan hanya persoalan medis, tapi juga sosial. Karena itu, diperlukan kerja sama semua pihak agar penyebarannya tidak semakin meluas,” Tutup Helma.
















