BENGKULU, BEKENTV – Kelompok mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam program Transmigrasi Patriot melaksanakan penelitian dan pendampingan di wilayah Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Batu Ampar, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Anggota Tim Satu, Bagus Furqan Abdillah, menjelaskan bahwa ada dua keluaran utama yang ditargetkan dalam kegiatan ini, yakni pengembangan kawasan transmigrasi dan penguatan sektor tanaman pangan.
“Nanti kami harus memberikan rincian apa saja yang perlu dikembangkan di wilayah transmigrasi Kedurang, serta menentukan komoditas pangan apa saja yang sesuai ditanam di sini,” ujar Bagus.
Pada 5 September 2026, tim mahasiswa ITB telah mengunjungi langsung lokasi transmigrasi bersama tim dua.
Mereka melakukan wawancara dengan warga untuk menggali permasalahan yang dirasakan masyarakat setempat.
“Dari hasil kunjungan, kami melihat kondisi medan jalan. Dari Jalan Raya Kedurang memang sudah beraspal, tetapi menuju UPT Batu Ampar masih berupa jalan tanah sehingga menyulitkan akses,” ungkap Bagus.
Sementara itu, Bagus menjelaskan bahwa selain akses jalan, Bagus juga menyoroti keterbatasan infrastruktur dasar di kawasan transmigrasi tersebut.
Menurutnya, listrik warga masih bergantung pada panel surya dengan daya terbatas, sementara kebutuhan air bersih hanya mengandalkan satu sumur di dekat mushola.
“Karena mereka hanya mengandalkan panel surya jadi untuk pasokan listrik hanya bisa digunakan hingga siang hari. Sedangkan air bersih masyarakat memanfaatkan satu sumur, karena sumur lainnya masih keruh atau tidak layak digunakan,” jelas Bagus.
Lebih lanjut, program Transmigrasi Patriot sendiri merupakan bentuk penelitian mahasiswa yang ditujukan untuk memberikan masukan bagi pemerintah dalam mengembangkan kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
“Kami akan lakukan penelitian di sini, apapun hasilnya akan kami laporkan. Kami optimis program ini berjalan lancar, dan bisa menjadi acuan bagi Kementerian untuk melihat langsung kondisi transmigrasi di daerah,” tegas Bagus.
Meski akses jalan dinilai cukup sulit, Bagus menyebut kondisi di Kedurang masih lebih baik dibanding wilayah transmigrasi lain yang harus ditempuh melalui jalur ekstrem, seperti melewati pegunungan maupun lintas pulau.
“Kalau dibandingkan dengan teman-teman kami di ITB maupun kampus lain, lokasi Kedurang ini masih bisa digapai. Ada daerah transmigrasi lain yang jauh lebih sulit dijangkau,” tutup Bagus.
















