BENGKULU, BEKENTV – 2 balita cacingan di Seluma, Provinsi Bengkulu, menjadi sorotan nasional sejak viral mengeluarkan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dari mulut dan hidung, pada Minggu (14/9) lalu.
Kejadian mirip dengan kasus balita bernama Raya di Sukabumi ini turut menjadi perhatian pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMk).
Menindaklanjuti kasus tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia langsung turun ke lapangan.
Tim dari Kemenko PMK melakukan peninjauan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tais, tempat balita tersebut pertama kali dirawat dan mengunjungi kediaman keluarga pasien.
Kemenko PMK turut mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seluma untuk segera perbaiki layanan kesehatan di daerah.
Asisten Deputi Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan Kemenko PMK, Linda Restaningrum menjelaskan, bahwa RSUD Tais tidak memiliki peralatan medis yang memadai untuk menangani kondisi balita sehingga pasien terpaksa dirujuk ke RSUD M Yunus Bengkulu.
“Akibat keterbatasan alat, pasien dirujuk ke RS M Yunus Bengkulu. Ke depan, kami berharap masyarakat di daerah seperti Seluma bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tanpa harus dirujuk jauh,” kata Linda saat dikonfirmasi usai meninjau RSUD Tais.
Linda menegaskan, kondisi ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar bagi Pemerintah Kabupaten Seluma. Khususnya dalam meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan dasar di RSUD Tais sebagai rumah sakit utama di wilayah tersebut.
Selain itu, Linda juga mengungkapkan bahwa dari hasil penelusuran lapangan, program pemerintah terkait pemberian obat cacing sebenarnya telah dijalankan hingga tingkat posyandu. Namun, masalah muncul karena keluarga pasien tidak rutin membawa anaknya ke posyandu. Sehingga terlewat dari program pencegahan tersebut.
“Saya sudah berbicara langsung dengan orang tua balita. Mereka mengakui tidak rutin ke posyandu. Ini menjadi pelajaran penting bahwa peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan dalam menjaga kesehatan anak,” ujarnya.
Tak hanya itu, Linda juga menyoroti lemahnya sosialisasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma. Dirinya menilai edukasi mengenai pentingnya kebersihan lingkungan, sanitasi dan pencegahan penyakit parasit harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sekali.
“Sosialisasi harus dilakukan terus menerus. Tidak cukup hanya sekali atau dua kali. Pemerintah daerah perlu lebih proaktif menjangkau masyarakat,” tegasnya.
Kasus Khaira menjadi peringatan serius bagi semua pihak bahwa kombinasi antara fasilitas kesehatan yang minim, kurangnya edukasi dan rendahnya kesadaran masyarakat dapat berdampak fatal. Terutama bagi kelompok rentan seperti balita.
Pemerintah pusat melalui Kemenko PMK berharap agar kejadian ini menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Baik dari sisi infrastruktur kesehatan, peningkatan kualitas tenaga medis hingga edukasi kesehatan masyarakat. Tujuannya agar kasus serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Julian
















